Medan – Aksi pelemparan batu terhadap kendaraan asal Aceh kembali terjadi di wilayah Sumatera Utara. Kali ini, sebuah bus berpelat nomor BL 7917 AA yang melayani rute Medan–Pekanbaru menjadi sasaran orang tak dikenal saat melintas di kawasan Simpang Marbau, Kampung Pajak, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.
Lemparan batu menghantam kaca samping kanan
bus hingga pecah dan rontok seluruhnya. Insiden tersebut sempat memicu kepanikan di dalam
bus karena bagian yang terkena lemparan berada tepat di samping kursi yang ditempati seorang perempuan bersama balita. Beruntung, keduanya selamat dan tidak mengalami luka.
Bus tersebut mengangkut puluhan penumpang, termasuk rombongan Serikat Perusahaan Pers (SPS)
Aceh yang sedang dalam perjalanan menuju Pekanbaru untuk menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun SPS ke-80 yang akan berlangsung pada Senin (8/6/2026).
Kernet bus, Kevin, mengatakan peristiwa itu terjadi saat kendaraan melintas di kawasan Simpang Marbau. Setelah memastikan seluruh penumpang dalam keadaan aman, awak
bus segera melakukan penanganan darurat agar perjalanan dapat dilanjutkan.
Akibat kaca yang pecah total, bagian jendela yang rusak ditutup menggunakan terpal biru dan direkatkan dengan lakban. Kondisi tersebut mengurangi kenyamanan dan keamanan perjalanan karena angin dari luar terus masuk ke dalam kabin
bus berpendingin udara tersebut.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus pelemparan batu terhadap kendaraan asal
Aceh di sejumlah ruas jalan di Sumatera Utara. Sebelumnya, beberapa kendaraan travel, mobil pribadi, hingga
bus yang membawa rombongan Persiraja Banda
Aceh juga dilaporkan mengalami kejadian serupa.
Salah seorang penumpang mengaku resah karena aksi tersebut terus berulang dan mengancam keselamatan pengguna jalan.
"Belum lama ini mobil yang saya tumpangi juga dilempari batu. Sekarang
bus yang saya tumpangi mengalami hal yang sama. Ini sudah sangat meresahkan," ujarnya.
Sementara itu, anggota rombongan SPS Aceh, Barlian Erliadi, menilai kejadian tersebut tidak dapat lagi dianggap sebagai gangguan biasa karena berpotensi menimbulkan korban jiwa.
"Kali ini perempuan dan balita selamat. Namun sampai kapan keberuntungan itu ada? Jika batu itu mengenai kepala penumpang, akibatnya bisa fatal. Karena itu kami meminta kepolisian bertindak serius mengungkap pelaku dan mencegah kejadian serupa terulang," kata Barlian.
Ia juga meminta para anggota DPR RI dari daerah pemilihan
Aceh untuk ikut menyuarakan persoalan tersebut di tingkat nasional. Menurutnya, aksi pelemparan terhadap kendaraan yang membawa masyarakat
Aceh sudah terlalu sering terjadi dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
"Jangan menunggu korban jiwa. Negara harus hadir memberikan rasa aman bagi setiap warga yang menggunakan jalan umum," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, identitas pelaku maupun motif pelemparan masih belum diketahui. Masyarakat berharap aparat penegak hukum segera mengungkap pelaku serta meningkatkan pengamanan di jalur-jalur yang kerap menjadi lokasi terjadinya aksi serupa. (*)