datanews.id -
Taghafulsecara bahasa artinya pura-pura tidak tahu. Dalam Mu'jam Al Wasith disebutkan:
تَغَافَلَ أَرى من نفسه أَنه غَافلٌ وليس به غفلة
"Taghafalartinya menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya tidak tahu, padahal tidak demikian".
Tentu saja, pura-pura tidak tahu itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Namun para ulama ketika menyebutkan sifattaghaful, yang mereka maksud adalah pura-pura tidak tahu yang terpuji. Para ulama menyebutkan bahwa sifattaghafuladalah akhlak mulia.
Sifattaghafulyang dimaksud para ulama di atas adalah dengan melakukan tiga perkara:
1. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang belum diketahui
2. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain yang telah berlalu
3. Memaklumi kekeliruan anak kecil, serta orang yangjahildan awam
Ibnu Azraqrahimahullahjuga menyebutkan:
إن من السخاء والكرم ترك التجني، وترك البحث عن باطن الغيوب، والإمساك عن ذكر العيوب، كما أن من تمام الفضائل الصفح عن التوبيخ، وإكرام الكريم والبشر فب اللقاء ورد التحية، والتغافل عن خطأ الجاهل
"Bentuk kedermawanan dan sifat murah hati adalah:
Tidak suka mudah menuduh orang berbuat buruk
Tidak suka mencari-cari kesalahan yang tersembunyi
Menahan diri untuk tidak menyebutkan aib-aib orang lain
Demikian juga, bentuk kesempurnaan akhlak seseorang adalah:
Berpaling dari para pencela
Suka memuliakan orang yang mulia
Berwajah cerah ketika bertemu orang
Suka membalas penghormatan
Taghaful(memaklumi) kesalahan orang yang jahil"
(Bada'i as Salak fi Thaba'i al Malak, 1/129).
Di antara dalil yang menunjukkan terpujinya sifattaghafuladalah sabda Nabishallallahu 'alaihi wa sallam:
وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
"Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!"(HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairahradhiyallahu'anhu).
Dalam hadits ini Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallammelarangtajassusdantahassus.Tajassusitu mencari-cari kesalahan dan aib dari seorang muslim lalu mengumpulkannya.Tahassusitu mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seorang muslim.
Dari Abu Barzah Al Aslamiradhiyallahu'anhu, Nabishallallahu 'alaihi wa sallambersabda:
يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه
"Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukanghibahkepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhinakan walaupun ia berada di tengah rumahnya" (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalamShahih Abu Daud).
Allahta'alajuga berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat"(QS. An Nur: 19).
Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa'di menjelaskan ayat ini: "Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, dan bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana terjaganya darah dan harta mereka. Dan merupakan perintah Allah kepada kaum Mukminin untuk saling mensucikan hati. Dan saling mencintai untuk terjadi pada diri saudaranya apa yang ia cintai untuk terjadi pada dirinya" (Tafsir As Sa'di, hal. 564).
Dan banyak nasehat dari para ulama agar kita berhias dengan sifattaghaful. Imam Ahmad bin Hanbalrahimahullahmengatakan:
العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُلِ
"Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengantaghaful" (Riwayat Al Baihaqi dalamManaqib Imam Ahmad).
Maksudnya, dengan memiliki sifattaghafulkita akan selamat dari dosa-dosa yang terjadi karena melanggar hak orang lain.
Sufyan Ats Tsaurirahimahullahmengatakan:
ما زال التغافل من فعل الكرام
"Taghafulsenantiasa menjadi sifat orang mulia" (Tafsir Al Biqa'i, 9/73).
Orang yang memiliki sifattaghafulakan merasakan ketenangan hidup, karena ia tidak dipusingkan dengan urusan orang lain yang tidak ada kepentingan untuk dicampuri. Sehingga ia akan sibuk dengan aib sendiri. Ibnul Qayyimrahimahullahmengatakan:
مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه.
"Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya" (Al Fawaid, hal. 57).
Namun sifattaghafulbukan berarti tidak menasehati orang yang keliru dan bukan berarti tidak melakukanamar makruf nahi mungkar. Orang yangmutaghafiltetap wajib memberikan nasehat dan beramar ma'rufsesuai kemampuan. Dari Tamim Ad Dariradhiyallahu'anhu,Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: لِلَّهِ ولِكِتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وعامَّتِهِمْ
"Agama adalah nasehat". Para sahabat bertanya: "Untuk siapa?". Beliau menjawab: "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya"(HR. Muslim, no. 55).
Namun yang tercela adalah jika berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Seorang penyair menyebutkan:
تغافل في الأمور ولا تُكثر تقصيها فالاستقصاء فرقه
وسامح في حقوقك بعض شيء فما استوفى كريم قطُّ حقَّه
Hendaknya bersikap taghaful dalam (menyikapi) perkara-perkara
Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari-cari kesalahan, inilah pembeda (taghaful yang tercela dan terpuji)
Bersikap longgarlah dalam menyikapi penunaian hakmu (yang wajib atas orang lain) di sebagian perkaranya.
Sungguh orang yang mulia tidak pernah menuntut haknya ditunaikan.
(Disebutkan Ibnu Azraq dalamBada'i as Salak fi Thaba'i al Malak, 1/129).
Wallahu a'lam.Semoga Allahta'alamemberi taufik.
Walhamdulillahi rabbil 'alamin, washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wal 'ala alihi washahbihi ajma'in.