datanews.id -Kekuasaan dan kedudukan telah membuat
Fir'aun lupa diri sehingga segala cara dilakukan untuk mempertahankannya, tidak peduli meski harus mengorbankan banyak nyawa. Betapa banyak anak laki yang sudah dibunuh atas perintahnya hanya karena khawatir kekuasaannya akan digoyang oleh calon generasi penerus itu. Tidak hanya sampai disitu, bahkan sampai-sampai dia mengaku dirinya sebagai tuhan yang harus disembah.
فَحَشَرَ فَنَادَىٰ﴿٢٣﴾فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
Lalu dia mengumpulkan (pembesar-pembesar), lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berujar, 'Akulah ilahmu (sesembahanmu) yang paling tinggi.' [An-Nâzi'ât/79:23-24]
Kedatangan
nabi Musa Alaihissallam dengan saudaranya
nabi Harun Alaihissallam tidak mampu menyadarkan
Fir'aun dari kekufuran dan kesombongannya. Padahal, dakwah
nabi Musa Alaihissallam dan saudaranya itu sudah dilakukan dengan cara terbaik yaitu dengan lemah lembut, sebagaimana perintah Allâh Azza wa Jalla :
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. [Thaha/20:44]
Beliau Shallallahu 'alaihi wa salam juga melakukan dialog dengan cara baik dan menunjukkan bukti kebenaran risalah yang beliau bawa berupa mu'jizat. Akan tetapi mu'jizat yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada nabi-Nya
Musa Alaihissallam justru dianggap sebagai sihir. Bertolak dari anggapan keliru ini, Fir'aun, si raja zhalim tersebut mengerahkan pada penyihir di negaranya untuk mengalahkan mu'jizat yang dibawa oleh Nabiyullah
Musa Alaihissallam dan mereka yakin akan berhasil mengalahkan
nabi Musa Alaihissallam. Namun faktanya, para tukang sihir itu menjadi sadar dan yakin bahwa apa yang ditunjukkan oleh
Musa Alaihissallam bukanlah sihir. Oleh karena itu, mereka mengikrarkan keimanan mereka kepada
Musa Alaihissallam dihadapan Fir'aun, meski mereka diancam siksa. Peristiwa ini menjadi sebuah tamparan keras yang seharusnya bisa menyadarkannya dan membuatnya berpikir. Namun ternyata tidak juga.
Ancaman demi ancaman terus diarahkan kepada
nabi Musa Alaihissallam dan para pengikutnya.
Fir'aun mengancam akan membunuh
nabi Musa Alaihissallam , sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang artinya :
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
Dan
Fir'aun berkata (kepada para pembesarnya), "Biarkanlah aku membunuh
Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." [Ghafir/40:26]
Dan Nabi
Musa Alaihissallam merespon ancaman ini dengan doa:
وَقَالَ مُوسَىٰ إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ
Dan
Musa Alaihissallam berkata, "Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab." [Ghafir/40:27]
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengajak
Fir'aun dan pengikutnya agar beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, bahkan kekufuran mereka semakin menjadi-jadi dan mereka terus menghalangi orang-orang yang hendak beriman. Nabi
Musa Alaihissallam pun berdoa agar mereka ditutup hatinya agar tidak beriman sampai melihat adzab Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ ﴿٨٨﴾ قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Ya Rabb kami! Binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.
Allâh berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." [Yunus/10: 88- 89]
Akhir
kisah yang menyedihkan.
Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan oleh Allâh saat berupaya mengejar
nabi Musa Alaihissallam dan para pengikutnya yang sedang menyeberangi lautan yang terbelah. Saat sudah tidak berdaya lagi ditengah amukan ombak yang menggulung, barulah Fir'aun, penguasa yang super sombong itu menyatakan keimanannya kepada Rabb
nabi Musa Alaihissallam . Namun, keimanan seseorang dalam kondisi seperti ini sudah tidak lagi bermanfaat sama sekali. Kesengsaraan abadi yang tidak terperikan menjadi bagiannya.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari
kisah ini, sebagai apapun kita, baik sebagai rakyat biasa ataupun penguasa yang sedang berada dipuncak kekuasaan. Sadarlah! Cepat atau lambat, semua akan berakhir dan pasti akan melihat hasil dari perbuatannya selama hidupnya.