datanews.id - Allâh Azza wa Jalla berfirman:
ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٩٢﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا ﴿٩٣﴾ قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, "Hai Dzulqarnain! Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" [Al-Kahfi/18:92-94]
Allâh Memberikan Dzulqarnain Sebab-sebab Ilmiah Sehingga Dia Bisa Faham Bahasa Asing Kaumnya
Para ahli tafsir mengatakan bahwa Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke arah utara, hingga akhirnya beliau sampai di antara dua dinding penghalang.
Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena bahasa mereka sangat asing serta akal dan hati mereka tidak bagus.
Namun, Allâh Azza wa Jalla memberikan Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah sehingga dia bisa memahami bahasa kaum itu dan dia bisa memahamkan mereka.
Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya.
Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain dan meminta agar Dzulqarnain membuatkan mereka dinding penghalang dari Ya'juj dan Ma'juj agar mereka terhindar dari kerusakan yang dibuat Ya'juj dan Ma'juj. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. [1]
Dzulqarnain Bukan Orang yang Tamak, Dia Tidak Memiliki Keinginan Terhadap Harta Dunia. Namun Dia Juga Tidak Meninggalkan Usaha Perbaikan Keadaan Rakyat.
Saat meminta tolong kepada Dzulqarnain, merekaberjanji akan memberinya upah. Dzulqarnainbukan orang yang tamak, dia tidak memilikikeinginan terhadap harta dunia. Namun diajuga tidak meninggalkan usaha perbaikan keadaanrakyat, hahkan tujuannya adalah perbaikan.
Sehingga dia memenuhi permintaan merekakarena kemaslahatan yang terkandung didalamnya. Dia tidak mengambil upah darimereka.[2]
Ibnu Jarir dari Atha dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, "(Mereka berjanji akan memberikan) upah yang besar (ajran azhiman) yaitu dengan cara (masing-masing) mereka mengumpulkan harta benda yang mereka miliki untuk kemudian (mereka satukan) lalu diberikan kepada Dzulqarnain sebagai upah, sehingga dia bisa membuatkan benteng penghalang. [3]
Dzulqarnain Mengajak Partisipasi Rakyatnya Dalam Membangun Dinding Pemisah, Untuk Kemaslahatan Mereka.
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
Dzulqarnain berkata, "Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, [Al-Kahfi/18:95]
Kemudian Dzulqarnain dalam rangka menjaga diri dan agamanya serta mewujudkan kebaikan, ia mengatakan, "Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepadaku kekuasaan dan kedudukan yang itu lebih baik untukku daripada harta yang kalian kumpulkan untuk kalian berikan kepadaku. Namun, bantulah aku dengan kekuatan tenaga dan perbuatan kalian dan penyediaan alat-alat untuk membangunnya. [4]
"Agar aku membuatkan dinding antarakamu dan mereka." sebagai penghalang agar merekatidak melintasi kalian.
آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُواۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ﴿٩٦﴾ فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
Berilah aku potongan-potongan besi". hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, "Tiuplah (api itu)". hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, "Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu". Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. [Al Kahfi/18:96-97]
Mereka memberikan potongan-potongan besi kepada Dzulqarnain.Hingga ketika besi itu telah rata dengan dua gunung yang antara keduanyadibangun penghalang."Dzulqarnain berkata, "Nyalakanlah api yang besar. Gunakanlah alat tiup agarnyalanya membesar, sehingga tembaga itumeleleh. Tatkala tembaga yanghendak dia tuangkan di antara potongan-potonganbesi itu telah meleleh, ,dia berkata berilah aku tembaga yang telah mendidihlalu tuang tembaga yang meleleh keatas besi panas itu.
Maka dinding penghalang itumenjadi luar biasa kokoh. Umat manusia yang berada di belakang menjadi aman darikejahatan Ya`juj dan Ma`juj.Sehingga Ya`juj dan Ma`juj tidak memilikikemampuan dan kekuatan untuk mendakinyakarena tingginya penghalang itu. Tidak pulamereka bisa melubanginya karena kekokohandan kekuatannya.
Dzulqarnain Menyandarkan Hasil Kerjanya Sebagai Rahmat Dari Rabbnya, dan Bersyukur Kepada Rabbnya Atas Kekokohan dan Kemampuannya.
قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّيۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
Dzulqarnain berkata, "Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar". [Al Kahfi/18 :98]
Setelah melakukanperbuatan baik dan pengaruh yang mulia,Dzulqarnain menyandarkan nikmat itukepada Pemiliknya. Dia berkata,
قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ
"Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku." [Al-Kahfi/18: 98]
Maksudnya, merupakan karunia dankebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaanpara pemimpin yang shalih. Bila Allâh Azza wa Jalla memberikan kenikmatan yang muliakepada mereka, bertambahlah syukur,penetapan, dan pengakuan mereka akannikmat Allâh Azza wa Jalla .
Dzulqarnain berkata, "Maka apabila sudah datang janjiRabbku akan keluarnya Ya`jujdan Ma`juj, Dia menjadikan dindingpenghalang yang kuat dan kokoh itu(hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dindingitu dengan tanah.
وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ
"Dan janji Rabbku itu adalah benar." [Al-Kahfi/18:98]
Sebagaimana firmanAllâh Subhanahu wa Ta'ala :
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
"Hingga apabila dibukakan (dinding)Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengancepat dari seluruh tempat yang tinggi."(Al-Anbiya`: 96) [5]
Faedah dari kisah [6]
Allâh mengangkat derajat sebagian manusia atas sebagian yang lain dan memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki berupa kekuasaan dan harta, karena Dia yang maha kuasa dan yang mengetahui semua hikmah yang tersembunyi.
Isyarat untuk melakukan sebab, sebagaimana sunatullah dalam kauniyah-Nya dengan bersungguh-sungguh berusaha dan bekerja maka akan tercapai tujuan. Kadar keberhasilan seseorang berbanding lurus dengan kadar kesungguh-sungguhannya.
Semangat dalam melakukan perkara yang penting serta berusaha menghilangkan rintangan , tetap semangat dan tidak putus asa dalam mencapai tujuan.
Siapa yang berkuasa maka tidak seharusnya dia mabuk kepayang dengan kekuasaannya, serta tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menyiksa dan menghukum orang yang dia mau. Dia harus memperlakukan orang yang baik dengan cara baik dan bersikap tegas terhadap orang yang jahat. Dengannya, dia bisa memberikan rasa keadilan kepada rakyatnya.
Seorang penguasa hendaknya menjaga diri dari harta rakyatnya dan tidak menerima imbalan dari pekerjaan yang dia lakukan selama dia telah dicukupkan oleh Allâh Azza wa Jalla , karena dengan sikap itu dia menjaga kehormatannya dan akan menambah kecintaan rakyat kepadanya.
Mengungkapkan kenikmatan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Dan menunjukkan kelemahan seorang hamba karena dia tidak akan mampu kecuali atas pertolongan-Nya. Sebagaimana ucapanNabi Sulaiman: هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ "Ini termasuk karunia Rabbku untukmencoba aku apakah aku bersyukur ataumengingkari (akan nikmat-Nya).".[An-Naml/27:40]
Terbukanya atau hancurnya dinding pembatas yang dibuat oleh Dzulqarnain serta keluarnya Ya'juj dan Ma'juj salah satu diantara tanda kiamat besar.
Mengingat negeri akhirat dan fananya dunia akan menjadikan seseorang bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk alam yang kekal abadi dan kenikmatan yang langgeng selamanya.
Pelajaran akan abadinya amalan yang baik dan atsar perbuatan yang mulia. Sebagaimana yang dikisahkan dalam ayat yang mulia ini, maka kebaikan Dzulqarnain berupa kebaikan akhlaknya, keberanian, keluhuran cita-citanya, menjaga kehormatan diri, keadilan dan usahanya mengokohkan keamanan dan memberi kebaikan kepada orang baik serta memberi hukuman orang zhalim, perbuatannya itu tetap dipuji dan diabadikan walaupun orangnya telah tiada.
Hendaknya seorang pemimpin mengupayakan keamanan bagi rakyatnya, menjaga mereka, mencegah dari kejelekan, menutup kekurangan dan memperbaiki mereka, menjaga harta mereka, mengarahkan kepada yang bermanfaat untuk mereka, dan menjaga hak-hak rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan dan pengawasannya.
Untuk mencapai kemaslahatan, kebaikan dan keamanan bersama maka seorang pemimpin membutuhkan partisipasi dari rakyatnya
Hendaklahnikmat-nikmat yang besar tidak menjadikanseseorang congkak dan sombong.Sebagaimana kesombongan Qarun ketika dia berkata:قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ "Sesungguhnya aku hanya diberi hartaitu, karena ilmu yang ada padaku." [Al-Qashash/28:78]
Footnote
[1] Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655
[2] Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655
[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hlm :106; Darul Kutub al-Ilmiyah
[4] Tafsir Ibnu Katsir; hal 106; Darul Kutub al-Ilmiyah
[5] diringkas dari Taisir al-Karimirrahman; Tafsir Surat al-Kahfi:96-98; Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
[6] diringkas dengan perubahan dari Taisirul Manân Fii Qishashil Qur'an; hlm;427-429; Ahmad Farîd; Dâr Ibnil Jauzi.
Sumber : almanhaj.or.id